Oleh : Muhammad Irham dan Sabaruddin Zakaria
Guru Beasr Universitas Syiah Kuala
Keberhasilan ilmuwan Tiongkok mengembangkan varietas padi toleran salinitas, yang populer disebut sebagai padi air asin, telah mengubah lanskap global riset pangan. Di berbagai wilayah pesisir dan lahan salin Tiongkok, varietas ini mampu menghasilkan 4,6 hingga 9 ton per hektare. Angka tersebut tidak hanya menantang pandangan lama bahwa tanah intrusi air laut adalah tanah mati, tetapi juga membuka peluang bagi negara-negara yang lahan pesisirnya terus terancam kenaikan muka laut.
Indonesia, negara kepulauan dengan lgaris pantai sepanjang lebih dari 108.000 kilometer, menghadapi ancaman yang tidak kecil. Laporan BRIN menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 3,2 juta hektare lahan salin, dan angka ini diperkirakan meningkat akibat perubahan iklim dan degradasi pesisir. Dalam kondisi ini, inovasi padi air asin bukan lagi opsi, melainkan urgensi.
Universitas Syiah Kuala (USK) adalah salah satu institusi di Indonesia yang merespons tantangan tersebut dengan langkah konkret. Pengembangan riset padi air asin di USK memiliki tiga figur penggerak utama. Prof. Sabaruddin menjadi motor ilmiah yang mendorong inisiatif ini melalui kompetensinya di bidang pemuliaan tanaman dan agronomi adaptif. Rektor USK, Prof. Marwan, memberikan dukungan kelembagaan yang kuat, memastikan agenda ini naik ke tingkat strategis universitas. Sedangkan Prof. Irham dari Fakultas Kelautan dan Perikanan berperan sebagai jembatan akademik yang menghubungkan USK dengan pusat-pusat riset internasional di Tiongkok.
Kolaborasi ini mencapai tonggak penting pada kunjungan USK ke Guangdong Ocean University (GDOU) pada 20–23 November 2025. Dalam pertemuan tersebut, kedua institusi secara resmi menyepakati dimulainya penelitian bersama tentang padi toleran air asin, berfokus pada pemuliaan varietas yang sesuai dengan kondisi pesisir Aceh dan Indonesia umumnya. Kesepakatan itu lebih dari sekadar nota diplomatis namun ia dilengkapi dengan komitmen nyata yaitu GDOU menyediakan pembiayaan penuh bagi satu calon mahasiswa PhD dan dua calon mahasiswa master dari USK untuk intake September 2026, khusus dalam bidang pertanian pesisir dan pemuliaan tanaman padi yang tahan terhadap salinitas tinggi. Skema beasiswa penuh ini menjadi bagian langsung dari implementasi kerjasama akademik jangka panjang USK–GDOU.
Kesepakatan ini memiliki makna strategis. Pertama, menandai pergeseran orientasi kolaborasi internasional USK dari model “studi singkat” menuju penguatan kapasitas ilmiah internal melalui pendidikan tingkat lanjut. Kedua, fokus riset pada padi toleran salinitas memungkinkan USK menjadi pusat pengembangan pertanian pesisir di Indonesia, memanfaatkan karakter geografis Aceh sebagai laboratorium alami. Ketiga, pendanaan penuh dari GDOU membuktikan bahwa kerjasama ini berbasis komitmen ilmiah, bukan sekadar formalitas akademik.
Di sisi lain, Tiongkok sendiri telah membuktikan bahwa teknologi padi air asin bukan eksperimen sesaat. Negara ini memiliki lebih dari 100 juta hektare lahan salin-alkali dan menjadikan inovasi ini sebagai strategi nasional ketahanan pangan. Mereka memadukan marker-assisted selection, molecular breeding, dan uji lapangan berskala besar untuk memastikan varietas yang dihasilkan stabil dan siap komersialisasi. Keberhasilan tersebut memberi Indonesia pelajaran berharga bahwa ilmu yang kuat, ekosistem riset yang mapan, dan dukungan negara adalah kunci.
Karena itu, kolaborasi USK dengan GDOU bukan semata pembelajaran, melainkan peluang untuk menyerap model pembangunan riset yang terstruktur. Namun beberapa aspek harus diperhatikan agar kolaborasi ini benar-benar menghasilkan lompatan kompetensi. Pertama, USK perlu memperkuat infrastruktur risetnya melalui laboratorium genetika molekuler, fasilitas pemuliaan, lahan percobaan salin, dan sistem monitoring lingkungan. Tanpa fondasi ini, pengetahuan yang dibawa pulang oleh kandidat PhD dan master hanya akan menjadi teori tanpa implementasi nyata.
Kedua, pengembangan varietas tidak cukup dengan menanam benih dari Tiongkok. Karakteristik salinitas Aceh berbeda dengan pesisir Guangdong atau Qingdao. Mineralisasi, pH tanah, tipe sedimen, dan pola pasang surut di Aceh memerlukan pendekatan adaptasi lokal. Di sinilah peran ilmiah Prof. Sabaruddin menjadi sangat penting dengan memastikan bahwa riset yang dilakukan tidak hanya berorientasi pada transfer teknologi, tetapi penciptaan teknologi baru yang relevan dengan ekosistem lokal.
Ketiga, pemerintah daerah dan nasional perlu mengintegrasikan inovasi ini dalam kebijakan ketahanan pangan. Jika padi air asin bisa tumbuh produktif di lahan marginal, Indonesia dapat menambah jutaan hektar lahan pangan baru tanpa membuka hutan. Pemanfaatan lahan salin menjadi strategi kunci di tengah menurunnya kualitas tanah dan meningkatnya tekanan terhadap lahan subur.
Tentu, tantangan tetap ada. Perdebatan mengenai varietas hasil pemuliaan molekuler, ketidakpahaman publik terhadap istilah “benih asing”, serta kekhawatiran petani terhadap lisensi benih harus dihadapi dengan edukasi berbasis sains. Penting untuk ditegaskan bahwa mayoritas varietas padi air asin bukanlah tanaman transgenik, melainkan hasil pemuliaan konvensional yang dibantu teknologi molekuler.
Dengan semua dinamika ini, langkah USK yang didukung Prof. Sabaruddin, Prof. Marwan, dan Prof. Irham menjadi penanda penting bahwa universitas daerah pun dapat memengaruhi peta inovasi pangan nasional. Kesepakatan beasiswa penuh dari GDOU memperkuat posisi USK sebagai aktor yang mampu memanfaatkan diplomasi akademik menjadi kekuatan ilmiah nyata.
Pada akhirnya, pertanyaannya sederhana tetapi fundamental yaitu apakah Indonesia ingin hanya menjadi pengguna teknologi atau menjadi penciptanya? Jika kolaborasi ini dijalankan dengan visi jangka panjang, maka padi air asin tidak hanya akan tumbuh di lahan pesisir Aceh tetapi juga menumbuhkan kedaulatan pangan Indonesia.






